Berdirinya Kekhalifahan Umayyah
Dinasti Umayyah berdiri setelah Muawiyah bin Abi Sufyan mengambil alih kekhalifahan dari Ali bin Abi Thalib RA pada tahun 661 M — sebuah peristiwa yang mengubah sistem pemerintahan Islam dari syura (musyawarah) menjadi monarki turun-temurun. Ibu kota kekhalifahan dipindahkan dari Madinah ke Damaskus, Syria, yang menjadi pusat kekuasaan selama hampir satu abad.
Ekspansi Terluas dalam Sejarah Islam
Di bawah Dinasti Umayyah, wilayah Islam mencapai luasnya yang paling besar sepanjang sejarah. Pasukan Muslim menaklukkan Afrika Utara, Spanyol (Al-Andalus), Asia Tengah hingga perbatasan Tiongkok, dan wilayah India. Pada puncaknya, kekhalifahan Umayyah membentang dari Spanyol di barat hingga Sindh di timur — menjadikannya salah satu imperium terbesar yang pernah ada.
Kemajuan Peradaban
Masa Umayyah bukan sekadar ekspansi militer. Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Umar II), yang memerintah 717–720 M, dikenal sebagai pemimpin yang adil dan reformis. Pembangunan infrastruktur, jalan raya, irigasi, dan pos-pos kuda dilakukan di seluruh wilayah. Bahasa Arab ditetapkan sebagai bahasa resmi administrasi, mendorong penyebarluasan budaya dan ilmu pengetahuan Islam.
Kejatuhan dan Warisan
Dinasti Umayyah berakhir pada tahun 750 M ketika Bani Abbasiyah menggulingkan kekuasaan mereka. Pemberontakan dipicu oleh ketidakpuasan kaum Muslim non-Arab yang merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua. Satu-satunya keturunan Umayyah yang lolos, Abdurrahman I, melarikan diri ke Spanyol dan mendirikan Emirat Kordoba — mempertahankan warisan Umayyah di Barat selama berabad-abad.